Banyak orang menganggap obat yang harganya lebih mahal itu pasti lebih bagus daripada obat yang harganya lebih murah. Apakan benar demikian?
Sebetulnya semua produk obat itu ampuh, asalkan dibuat dengan prosedur yang sesuai standar, walaupun harganya murah, atau bahkan kelewat murah.
Sebagai contoh, di apotek ada obat alergi CTM yang harga satu strip isi 10 tablet hanya Rp1.500. Ya, benar. Seribu lima ratus rupiah per strip. Berarti satu tablet harganya hanya Rp150. Ini lebih murah daripada harga permen anak-anak.
Walaupun harganya kelewat murah, obat ini sudah cukup ampuh untuk mengatasi alergi pada umumnya. CTM ini termasuk obat jadul yang sampai sekarang masih amat sangat banyak digunakan di dalam obat-obat batuk pilek. Sebagian besar obat batuk pilek di pasaran berisi CTM. Ini adalah bukti bahwa obat murah itu sudah cukup ampuh.
Contoh lain, parasetamol. Ini obat demam dan nyeri generasi Perang Dunia Kedua yang sampai sekarang masih ampuh dan banyak sekali digunakan sebagai obat demam dan sakit kepala. Sebagian besar obat demam-batuk-pilek di pasaran berisi parasetamol.
Di apotek, harga parasetamol tablet hanya sekitar Rp4.000 per 10 tablet. Artinya, satu tablet harganya hanya Rp400. Ini juga lebih murah daripada harga permen anak-anak.
Contoh lain, vitamin. Di apotek, ada banyak sekali merek vitamin. Harganya mulai dari beberapa ribu rupiah sampai beberapa ratus ribu rupiah. Dari sekian banyak merek vitamin itu, ada satu merek lawas yang sampai sekarang masih eksis, yaitu Vitamin botolan. Vitaminnya dalam bentuk tablet kecil-kecil, dikemas di dalam berupa pot silinder kecil. Harganya hanya sekitar Rp200 per tablet. Ini juga lebih murah daripada harga permen anak-anak. Walaupun harganya murah, vitamin ini sudah cukup ampuh untuk diminum sehari-hari.
Ini semua adalah bukti bahwa mutu obat itu tidak bisa dinilai dari harganya. Jika obat seharga permen saja sudah cukup ampuh, buat apa pilih yang mahal?


